Minggu, 17 Juni 2012
Rabu, 13 Juni 2012
Adat di Minangkabau
Orang Minangkabau
terkenal dengan adatnya. Adat sangat penting dalam kehidupan masyarakatnya.
Oleh karena itu dalam petatah Minangkabau diungkapkan, hiduik dikanduang adat.
Ada empat
tingkatan adat di Minangkabau.
1. Adat Nan Sabana Adat
Adat nan
sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah
oleh keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan
hukum. Di dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan,
diasak indak layua, dibubuik indak mati; atauadat
babuhua mati.
Adat nan
sabana adat bersumber dari alam. Pada hakikatnya, adat ini ialah kelaziman yang
terjadi dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, adat Minangkabau tidak
bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu melahirkan konsep dasar pelaksanaan
adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dan syarak mangato, adat mamakai. Dari konsep itu lahir pulalah
falsafah dasar orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru.
Adat nan
sabana adat menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di Minangkabau.
Ia berfungsi sebagai landasan utama dari norma, hukum, dan aturan-aturan masyarakat
Minangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan, dan
peraturan-peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana
adat.
2. Adat Nan
Diadatkan
Adat nan
diadatkan adalah adat buatan yang direncanakan, dirancang, dan disusun oleh
nenek moyang orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aturan yang berupa adat nan diadatkan disampaikan dalam petatah dan petitih,
mamangan, pantun, dan ungkapan bahasa yang berkias.
Orang
Minangkabau mempercayai dua orang tokoh sebagai perancang, perencana, dan
penyusun adat nan diadatkan, yaitu Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak
Katumangguangan. Inti dari adat nan diadatkan yang dirancang Datuak Parpatiah
Nan Sabatang ialah demokrasi, berdaulat kepada rakyat, dan mengutamakan
musyawarah untuk mufakat. Sedangkan adat yang disusun Datuak Katumangguangan
intinya melaksanakan pemerintahan yang berdaulat ke atas, otokrasi namun tidak
sewenang-wenang.
Sepintas,
kedua konsep adat itu berlawanan. Namun dalam pelaksanaannya kedua konsep itu
bertemu, membaur, dan saling mengisi. Gabungan keduanya melahirkan demokrasi
yang khas di Minangkabau. Diungkapkan dalam ajaran Minangkabau sebagai berikut:
Bajanjang naiak, batanggo turun.
Naiak dari janjang nan di bawah, turun dari tanggo nan di ateh
Titiak dari langik, tabasuik dari bumi.
Penggabungan kedua sistem ini ibarat
hubungan legislatif dan eksekutif di sistem pemerintahan saat ini.
3. Adat Nan
Taradat
Adat nan
taradat adalah ketentuan adat yang disusun di nagari untuk melaksanakan adat
nan sabana adat dan adat nan diadatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan
nagarinya. Adat ini disusun oleh para tokoh dan pemuka masyarakat nagari
melalui musyawarah dan mufakat. Dari pengertian itu lahirlah istilah adat salingkuang nagari.
Adat nan
taradat disebut juga adat babuhua sentak, artinya dapat diperbaiki, diubah,
dan diganti. Fungsi utamanya sebagai peraturan pelaksanaan dari adat
Minangkabau. Contoh penerapannya antara lain dalam upacara batagak pangulu, turun mandi, sunat rasul, dan perkawinan.
4. Adat
Istiadat
Adat istiadat
merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam suatu
nagari. Peraturan ini menampung segala kemauan anak nagari yang sesuai menurut alua jo patuik, patuik jo mungkin. Aspirasi yang disalurkan ke dalam
adat istiadat ialah aspirasi yang sesuai dengan adat jo limbago, manuruik barih jo balabeh, manuruik
ukuran cupak jo gantang, manuruik alua jo patuik.
Ada dua
proses terbentuknya adat istiadat. Pertama, berdasarkan usul dari anak nagari,
anak kemenakan, dan masyarakat setempat. Kedua, berdasarkan fenomena atau
gejala yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Ini diungkapkan dalam
kato pusako:
Tumbuah bak padi digaro, tumbuah bak bijo disiang.
Elok dipakai, buruak dibuang.
Elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan.
Adat istiadat
umumnya berbentuk kesenangan atau hobi anak nagari seperti kesenian dan
olahraga.
Kamis, 07 Juni 2012
Contoh Naskah Film Fiksi “LAMO DI RANTAU”
1.
INT.
KAMAR BUYUANG: LANTAI. SUBUH.
BUYUANG.
Buyuang berkemas-kemas karena besok pagi Buyuang akan pulang ke kampung
halamannya.
(Buyuang mamasukkan baju ke dalam tas, dan beberapa peralatan pribadi
lainnya. Kemudian Buyuang berjalan ke arah meja dan memandang sedih foto sang kekasihnya. Buyuang merasa sedih
karena harus berpisah dengan kekasihnya. Kemudian Buyuang tidur sambil memeluk
foto kekasihnya)
Fade out
Fade in
2.
EKT.
TERMINAL. PAGI.
BUYUANG, TUKANG OJEK.
Jam telah menunjukkan pukul 08:40 WIB. Dengan wajah yang cemas Buyuang
turun dari ojek dan berlari menuju loket bus.
TUKANG OJEK
Woi....
Buyuang kembali berlari menuju
tukang ojek.
BUYUANG
Maaf bang.....
Buyuang memberikan selembar
uang dua puluh ribu.
TUKANG OJEK
Thank you.
Kemudian abang tukang ojek
lansung tancap gas.
BUYUANG
Bang....
kembaliannya?
CUT TO
3.
INT.
LOKET.PAGI.
BUYUANG, PETUGAS LOKET.
Didalam ruangan, petugas loket tidur sangat nyenyak, sampai-sampai
ilernya menetes ke lantai tidak dia sadari. Buyuang dengan heran melihat
pemndangan yang tidak enak ini. Kemudian Buyuang mengagetkan putugas loket.
BUYUANG
Maling....maling...maling...(sambil memukul botol)
Petugas loket bangun dengan
sangat kaget sambil melempar sebuah pisau.
PETUGAS LOKET
Maaf dek
nggak sengaja....(sambil tersenyum ganas)
Silahkan
duduk dulu.
Mau kemana
dek?
BUYUANG
Ke Gurun
pak..
PETUGAS LOKET
Mobilnya
baru berangkat beberapa menit yang lalu.
Kalau adek
mau nunggu, mobil trip kedua berangkatnya nanti sore.
BUYUANG
Tidak
apa-apalah pak, tiketnya gak ciat saja pak.
Kemudian petugas loket
mengambil tiket dan memotongnya menggunakan pisau.
Dari Scene 1 sampai 4.
Dari Scene 1 sampai 4.
Langganan:
Postingan (Atom)


