Selasa, 25 Februari 2014

Hutan Ku Tak Rimba Lagi

Nagari Gurun, Kecamatan Harau, Kabupaten 50 Kota, memiliki hutan yang luas dan digarap oleh masyarakat setempat. Kebanyakan hutan di Nagari Gurun diolah menjadi lahan pertanian oleh penduduknya. Kebanyakan lahan ditanami dengan pohon-pohon tua, ada juga yang berladang Gambir. Hutannya terasa sangat rimba dan sangat sejuk. Untuk bisa menikmati aroma udara yang sejuk di bawah pohon-pohon yang ratusan tahun usianya kita harus berjalan kaki beberapa jam. Tapi hal seperti ini saya rasakan beberapa tahun yang  lalu, sewaktu saya kecil dulunya.

Kini huntan yang lebat sudah mulai gundul, pemandangan yang indah sudah mulai di gunduli demi menacari rezki oleh masyarakatnya. Jalan setapak untuk menelusuri hutan kini sudah diperlebar. Suara mesin membuat burung-burung malas berkicau. Suara teriakan kera-kera malang pun sekarang sudah semakin menjauh ke tengah hutan. Saya kurang suka dengan pemandangan seperti ini. Semuanya telah berubah, tapi ingatan saya mash belum berubah, dan merindukan masa-masa ketakutan pada rimba.

18 tahun yang lalu saya memandang kegilaan alam dari bawah pohon Durian. Saya merasa alam di ciptakan sangat menakjubkan oleh sang pencipta. Saat duduk itu ibu saya berkata "ditengah hutan seperti ini rasanya kita tidak punya beban hidup" ya kata-kata itu tidak mungkin saya lupakan. Walau pada saat itu saya tidak mengerti tentang kegelisahan kehidupan orang dewasa.

Sekarang tepat dimana saya duduk 18 tahun lalu, saya merasakan hal yang beda. Alam tidak terasa gila lagi, tapi mereka yang menebang pohon, dan mengeruk batu alam itu yang terlihat gila. Sungguh pemandangan yang sedih, melihat mesin-mesin dengan semangatnya di perbudak oleh manusia. Saya tidak menemukan ketenangan hidup di hutan ini, tidak seperti 18 tahun lalu yang di katakan oleh ibu saya.

Hutanku telah berubah, hutanku tak rimba lagi, dan aku hanya bisa duduk dalam kesedihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar